Rabu, 05 November 2014

Kenanglah AQ

Sebuah tempat singgah sederhana berhasil ku bangun, ku tata dan ku jaga untuk kita. Dindingnya berupa untaian kata yang coba ku rangkai, atapnya berupa goresan hati yang berani ku ungkap, perabotnya hanyalah rentetan cerita yang tak sempurna. Karena Aq bukan seorang arsitek dan bukan pula seorang pujangga.

Mungkin kesan pertama pernah membuatmu terpesona, tapi belum tentu kesan selanjutnya. Mungkin kehadiranku pernah kau nantikan, tapi Aq tahu ada yang lebih layak untuk kau nanti. Aq mungkin pernah menginspirasimu, tapi sesungguhnya kau sendirilah yang  lebih pandai menggali inspirasi. Mungkin beberapa ceritaku sempat membuatmu terbuai, tapi sesungguhnya ada banyak hikmah di jagad raya ini yang membuatmu terhanyut akan maknanya,  selama Kau bisa melihatnya dengan mata hatimu.

Kau tahu, Aq hanyalah perempuan biasa. Cermin wanita akhir zaman yang mungkin tak sesabar Khadijah,  tak secerdas Aisyah, tak selembut Fatimah dan tak seberani Khaulah. Cukuplah Kau mengenalku seperti ini, agar Kau mampu menghargaiku dengan segala kekuranganku. Aq tahu...  Aq pernah menggoreskan luka di sana, Aq pernah meninggalkan noda yang belum sempatku bersihkan,  atau barang kali Aq sempat membuatmu tak nyaman dengan segala tingkah kacauku. 

Maaf…  

Kali ini, lagi dan lagi, Aq ingin meraih mutiara maaf itu di samudera hatimu. Dan Aq yakin, Kau takakan pernah keberatan mengangkatnya untukku. Maafkan Aq, karena sekian waktu adalah cukup untuk menunjukkan retaknya dindingku, pudarnya warnaku, rapuhnya atapku, dan lusuhnya perabot milikku. Semoga bangunan ini mampu utuh kembali… seperti semula seperti sediakala. Maaf... jika cintaku begitu besar untukmu, tapi apa dayaku, jika ernyata mencintaimu sesakit ini... Aq mohon kenanglah aq untuk hatimu...

_MT

Rabu, 15 Oktober 2014

Kelicikanku


Dulu, waktu aku masih kelas 1 SMP, kita sekelas diberi tugas kelompok oleh guru KTK untuk menghias gambar, dan aku bermaksud menghias gambar dengan cara menempeli permukaannya dengan biji-bijian yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadi gambar bunga.

Akhirnya siang itu, aku dan teman dekatku sari, pergi mencari biji-bijian berwarna merah. Lokasi pohonnya sekitar 500m dari rumah (mudah-mudahan bener, maklum gak bawa meteran). Waktu kita lagi asik mungutin biji-bijian yang pada berjatuhan di tanah, tiba-tiba ada seorang Bapak mengendarai motor (BMM) menghampiri kami.

Dia bertanya pada kita, “de, kolam renang telaga biru dimana sih?”
Kita (gw lupa Sari pa gw sebenernya jawab) “disana pak “ sambil nunjuk arah yang dimaksud “trus masuk ke dalem”

Sebenernya percakapan berikutnya aku agak lupa tapi kira-kira gini

BMM: “anak saya mau les karate, tapi sekarang dia nya lagi berenang”

Kita berdua (Aku dan Sari): “ooh..”

BMM: “kalian berdua lagi ngapain? ikut bapak aja yuk anterin ke sana” 
kita berdua jadi bingung dan takut diculik sama ni bapak2

Aku: “Papa saya kantornya deket situ, nantik kalo kita ketemu saya takut dimarahin”

 BMM: “nanti bapak kasih uang soalnya bapak belum pernah kesana”

seperti reaksi hampir semua orang mendengar 4 huruf itu, kita berduapun mulai berubah pikiran

Akhirnya singkat cerita kita berdua mau untuk nganterin bapak itu ke kolam renang. Tibalah saat kita mesti naik motor bapak itu. Dan kita berdua menemui permasalahan “siapa yang mo duduk di tengah?” (duduk di tengah berarti duduk tepat di belakang bapak itu -red)
Setelah kita berdua berdebat karena gak ada yang mau duduk di tengah, akhirnya kita sepakat untuk suit buat menentukan, yang kalah bakal duduk di tengah.

tu..wa.. ga..suit, ternyata aku yang kalah. Akhirnya aku naik ke motor duluan, tapi.. aku langsung duduk mundur ke belakang sedemikian rupa sehingga tidak ada space lagi buat orang lain duduk di belakangku. Sari yang ngeliat keadaan itupun jadi bingung

Sari: “maju dikit Dek”

Aku: “gak mau ah”

Sari: “majuan cepet”

Aku tetep kekeuh gak mau maju, akhirnya dengan gaya pasrahnya Saripun menyerah dan duduk di tengah walaupun nyata-nyata dia menang suit tadi. Dan akupun tersenyum penuh kemenangan.
Kalau ingat tentang kisah ini, aku pasti berpikir “licik banget gw ya?..”

*Sorry ya Sar...klo lo baca note ini :) *

Antara Guru dan Tukang Sala

"Kok kakak lama2 mirip tukang sala ya..." itu pendapat mamaku waktu aku teriak-teriak mencari barang yang hilang dan pendapat itu di sambut ketawa oleh abang dan adikku. yah begitulah mungkin sudah nasib jadi bahan tertawaan.

Sebenarnya tukang sala yang dimaksud adalah mbak tukang kue keliling (MTKK) yang berjualan semua jenis kue, berhubung di rumahku ini penghuninya lebih suka sala akhirnya tukang sala pun di pilih sebagai nama panggilan MTKK ini.

MTKK adalah seorang ibu, umur 30an. Mencari penghasilan dengan berjalan kue keliling di kompleks-kompleks. Seringkali dalam sekali keliling, tidak cukup banyak kuenya yang terjual. Jadi, menurut mama, dia sampai muter lagi sampai 3 kali. Hal yang tidak pernah dilakukan oleh pedagang keliling lainnya di kompleksku. MTKK ini juga tipe pedagang yang jemput bola, kalau kita (orang rumah) belum ada yang beli dia akan berhenti di depan rumah sambil berteriak ke arah pintu "abang alif... alif.. donat lif” (alif biasanya beli donat) atau ke arah pintu rumahku “bu..sala bu.. salanya masih hangat ni”

Begitulah MTKK menginspirasiku, melihat kegigihannya aku jadi termotivasi. Melihat kehidupannya aku jadi lebih banyak bersyukur, bukan karena aku sepakat dengan mama bahwa aku memiliki kemiripan dengan tukang sala (buat catatan, dari dulu aku paling gak suka dimirip-miripin bahkan dengan Dian Sastro sekalipun, itupun kalo ada yang berpikir ke arah sana). Tapi entah kenapa, aku kagum dengan semangatnya. Sekarang aku berharap, meskipun bukan tukang sala semoga aku bisa jadi guru yang terus termotivasi dan banyak bersyukur. Senantiasa ikut mencerdaskan anak bangsa dan memperbaiki generasi muda untuk kemaslahatan umat dan negara RI yang tercinta ini,,, eehheemm.

Senin, 13 Oktober 2014

Untuk Sebuah Penantian


saat rembulan jatuh di anjungan
menimpa sisi-sisi ruang jiwa 
dan kita tertunduk tanpa kata
sama-sama menyiasati luka

wahai rindu menjelma
tahukah kau, 
kueja setiap kenangan
kudekap sebuah senyuman
untuk mendekatimu
pelan kubisikkan dalam diam
“apakah kita akan sejalan?”

hampir saja aku terlupa
untuk tersenyum pada raga
menyapa dalam derita
rindu ini sungguh menyiksa

wahai kekasih
satu dua jam bercerita di peraduan
takkan bisa membuatku bosan
saat-saat sibuk mulai melanda
masih bisakah kita bercengkrama?

kulihat gelisah menghujam
saat embun hinggap di matamu
tirus, mengguratkan perih tertahan
tatapanmu kuteguk diam-diam
untuk sebuah angan buram

dan kita, larut dalam penantian

Minggu, 28 September 2014

Hanya Manusia Biasa

Beberapa hal berubah, seiring bertambahnya waktu dan usia. Tidak hanya intensitas kuliah, kerjapun begitu. Teman-teman yang semula tiap hari bertemu, sekarang tidak lagi.  Pulang kerja capek sekali, tepar, kalaupun ada tenaga sisa lebih baik digunakan untuk belajar ketimbang online, membalas bbm-pun hanya pada saat luang saja.
Oleh karenanya, bisa dibilang ada puluhan orang yang tiba-tiba terputus interaksinya dengan teman-teman lain karena kesibukan masing-masing. Seorang teman kuliah saya sampai bbm di suatu hari. Isinya permintaan maaf karena sudah lama tidak bbm, tidak perhatian, tidak hadir dikala susah dsb. Karena memang cukup drastis perubahannya, dari tiap hari kumpul di 1 ruangan, jadi tidak pernah interaksi sama sekali.
Saya, yang sering mengaku-aku kalau memiliki needs of affiliation yang rendah ini, pada dasarnya bukan orang yang mengharapkan perhatian lebih dari orang-orang secara intensif. Bukan orang yang kemana-mana harus ditemani, sering-sering ditelepon dan diajak ngobrol, dsb. Makanya saya cuma menjawab “santai aja kali” dan beberapa kata-kata lain.
Namun, kadang kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain bertambah kadarnya. Ada saat-saat dimana saya ingin sekali mengobrol dengan teman-teman jauh,  ingin sekali disapa, berharap sekali ada bbm baru yang masuk di hp saya untuk bertanya kabar atau sekedar meracau. Kalau sudah begitu, biasanya saya berinsiatif untuk “say hi” pada kawan-kawan lewat bbm, cuma bilang “ren…cuma nyapa doang”, “dil..kamu kangen ga sama aku?”, “dona..apa kabaaar..”, dan sapaan-sapaan singkat lain. Kadang kebutuhan seperti itu berada di posisi puncaknya, yaitu ketika saya ingin dibutuhkan, ingin dianggap spesial oleh orang tertentu, atau bahkan ingin dinyatakan cinta. Aah..saya hanyalah manusia biasa bukan? Jadi kadang saya memerlukannya juga.
Karena tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, maka pernahlah saya kecewa. Karena seringkali disaat seperti itu, tidak saya dapatkan bbm manis itu di hp saya. Ahh..saya ini sungguh manusia biasa, karena orang-orang yang sering saya bbm, yang hampir selalu saya ingat kalau mau kirim racauan, yang namanya berkelebat ketika saya ingin berdiskusi, yang selalu membuat saya bahagia ketika berjumpa dengannya, bisa dibilang hampir tidak pernah menghubungi saya duluan. Padahal kata saya dulu, melakukan curhat pada orang lain itu adalah salah satu bukti, bahwa kita percaya pada orang tsb. Entahlah. Maka pernahlah saya marah ketika ingat balasan bbm seorang teman saya “kangen  deh di bbm-in kaya gini sama Dek”, sementara dirinya tidak pernah bbm begitu pada saya.
Ahh..saya ini memang betul-betul manusia biasa, maka maafkan jika akhirnya saya mulai malas untuk melakukan initiating say hi lagi, malas untuk tanya kabar lagi, malas untuk bbm duluan lagi, kecuali kalau saya benar-benar perlu. Maka sisi kelemahan seorang manusialah yang membuat saya memilih untuk menunggu, dan tidak memulai.
Tapi alangkah malunya saya siang itu. Ketika saya bertemu dengan salah satu kawan saya ini. Bertemu untuk mengembalikan buku yang saya pinjam. Tempat janjian mendadak berubah, namun karena bbm nya masuk di saat saya sedang solat, saya telat membacanya, telat juga ke tempat janjian. Saat saya datang dia sudah tidak ada, pergi karena terlalu lama menunggu, padahal baru beberapa menit saja. Saya lihat dia jalan beberapa puluh meter di depan, agak ragu kalau itu dia, karena terlihat kurusan di mata saya, untuk memastikan saya telepon. Ternyata benar, akhirnya saya kejar, saya lihat gurat kelelahan di wajahnya, mata yang sayu, bahkan senyumnyapun terasa hambar. Pasti lelah sekali dia siang itu, sampai menunggu beberapa menit saja dia enggan dan memilih untuk segera pulang dan istirahat. “lagi banyak pikiran kali ya Dek”, katanya waktu saya tanya kenapa kelihatan kurusan dan lesu sekali . Ah, saya benar-benar jadi malu, uring-uringan dan berharap ditanya kabar, dari orang yang sebenarnya lebih butuh penguatan dari saya.
Maka siang itu saya sadar, bahwa jika kita terus menuntut, maka semakin besar peluang kita untuk kecewa. Jadi, marilah kita belajar untuk memulai lagi. Kalaupun ini tepukan sebelah tangan, maka biarlah tangan saya yang terus menjangkau untuk menepuknya, terus dan terus menjangkau lagi, sampai menyentuh sebelah tangannya. Lagipula, bukankah sebenarnya semua inipun saya yang paling banyak mendapat manfaatnya? Bukankah saya yang harusnya banyak berterima kasih karena mereka selalu rela berkurang kuotanya demi membalas bbm2 saya, bahkan mungkin di sela-sela kepenatan hidup mereka? Ahh, mungkin inipun tidak bisa dibilang tepukan sebelah tangan, karena sebenarnya tangan mereka sudah ada disana untuk menjangkau tangan saya, saya saja yang tidak menyadarinya.

#untuk beberapa temen yang telah merelakan pulsanya untuk bbm atau sms tanya kabar, atau membalas pertanyaan-pertanyaan saya, terimakasih banyak, sungguh berarti#

Senin, 22 September 2014

Belilah Meski Tak Butuh

Sahabatku... Pernah melihat pemandangan ini

Raut wajahya menyiratkan perjuangan hidup yang begitu hebat. Mata sayu dengan fisik tak lagi kuat tak sedikitpun menjadikannya menyerah pada kerasnya kehidupan. 


Kakek berpenampilan sederhana, mengenakan kemeja putih kusam dengan celana kumal menjulur sebatas betis dan sepasang telapak kaki rentanya hanya dibalut dengan sandal jepit usang tanpa merk. Dibahunya yang ringkih, ia memapah barang dagangannya. Barang dagangan yang sangat sederhana, beberapa sapu hasil buatannya sendiri dan ember sebagai pelengkap. Ia tak bosan menyapa satu demi satu orang yang lewat, berharap dagangannya dibeli. Kebanyakan bahkan tak sempat menjawab tawaran sang kakek bahkan ada juga yang menolak dengan halus.

Lalu ada ibu-ibu yang datang membeli, lihatlah... raut wajah kakek kini begitu bahagia. Tapi si ibu masih menawar, menawar separuh harga, padahal harga yang di tawarkan sang kakek sudah murah, hanya 12 ribu saja, tapi si ibu menawar dengan harga 6 ribu. Diakhir transaksi, kakek melepas sapunya seharga 8rb. Kakek pulang dengan uang 8 ribu di tangan, bekal hidup untuk keluarganya, hari itu hanya laku satu sapu saja.

Lalu disebuah restoran mewah, kita sering menghabiskan beberapa ratus ribu untuk makan disana. Tak lupa seusai membayar Bill, kita tidak mengambil sisa uang kembali yang kadang mencapai 15-20 ribu sebagai tip.

Jika seandainya kakek penjual sapu, dibayar 20 ribu meski harga sapu hanya12 ribu. Ketimbang menawarnya, ia tentu pulang dengan langkah yang bahagia. Bisa membawakan makanan yang sedikit lebih baik dari biasanya untuk keluarga. Mungkin doa akan mengalir dari mulut-mulut kecil sang kakek yang teramat bahagia.

Sahabatku....
Membeli yang tidak kita butuhkan, melebihkan dari harga yang ditawarkan, atau memberi sesuatu kepada mereka ditengah kerasnya perjuangan hidup tapi mereka tetap bertahan untuk tidak meminta-minta. Maka pada akhirnya kitalah yang paling berbahagia, karena mereka begitu saja mendoakan kita dengan tulus. Mengapa kita membeli mahal tanpa menawar di tempat yang berkelas, lalu menawar sebisa mungkin saat belanja dipinggir jalan. Mengapa 20 ribu terasa mahal, saat kakek menawarkan sapu buatannya, dibanding kita yang mudah saja meninggalkan 20 ribu sebagai uang tip usai makan di sebuah restoran mewah.

Sahabatku... Belilah meski tak butuh, mereka hanya berharap kita membeli apa yang mereka jual. dan itu sudah cukup untuk membantu beban hidup mereka

Rabu, 10 September 2014

Puisi MT

Ketika hari patah
Rembulan terjulai di sela daun-daun jambu
Rinduku menjelma kunang-kunang
Yang takkan hilang kepadamu

Lumatlah dengan mesra
Selagi manis kopi berlumuran di bibir ini
Agar kita bisa begadang dengan ciuman-ciuman yang menggemaskan
Kamu pasti merindukan

Inilah tubuhku
Tubuh yang dijanjikan waktu
Tubuh yang siap menadah
Segala getah-getih lumatanmu
Aku teringat masa itu

Masa dimana mendung menggugurkan gerimis
Berdiam di bawah payung hitam
Hilwa menangis menagih janji di depan istana
Setiap malam kamis